My Journey

Perjalanan ku

Cahaya Maya

Posted by jilena on 29 Januari 2010

Seperti biasa, jam tiga sore para penghuni rumah melakukan rutinitas sehari-hari.
Sinta baru saja pulang dari sekolah. Baju putihnya ia ganti dengan kaos bergambar barong berwarna merah, sedangkan rok abu-abunya tetap ia pakai. Setelah makan ia bermain main dengan Maya di kamar. Baru tiga puluh menit tapi tak kudengar lagi suara Sinta atau Maya. Hanya suara nafas yang berat dan teratur milik Sinta. Sinta sudah tertidur.

Sunar, sama saja. Kerjaannya cuma tidur saja. Rumah yang seharusnya Ia bersihkan dan rapikan tetap berantakan dan kotor. Baju kotor masih menggunung di depan kamar mandi. Di kursi panjang depan TV tubunya tengkurap. Kepalanya menghadap ke arah meja ruang tamu. Mulutnya merot terbuka terkena tekanan bantal. Liurnya menetes keluar dari mulut merotnya bersamaan dengan suara dengkuran yang mengalahkan suara TV.

Sore berjalan seperti biasa. Tak ada yang istimewa. Lelah duduk-duduk saja lalu aku mondar-mandir berjalan-jalan di teras depan rumah yang tertutup pagar besi tinggi. Pagar yang membatasi rumah ini dengan dunia luar. Membatasi atau menutupi? Entahlah, sepertinya mereka lebih suka orang lain melihat hal yang baik-baik saja. Dari luar orang hanya akan melihat rumah besar megah. Pemiliknya tentu orang yang sukses. Kaya raya dan bahagia. Coba saja orang masuk kesini, yang ada hanya rasa dingin. Dingin yang menyesakkan. Pertengkaran terjadi hampir setiap hari. Perdebatan tentang tak adanya tanggung jawab seorang suami dan sikap istri yang tidak sesuai kodrad. Istri merasa lebih berhak mengatur keluarga karena Ia yang menjadi sumber pundi-pundi keuangan. Sang suami merasa punya kuasa lebih besar untuk menjadi Jenderal dalam keluarga, karena Ia adalah lelaki yang pada kodradnya sebagai kepala keluarga.

Piring pecah, sendal melayang, TV remuk atau kursi terbalik sudah menjadi santapan sehari-hari. Perang mulut tentang siapa yang lebih bersalah, siapa yang lebih berhak marah dan memutuskan sesuatu. Sepertinya sangat menegangkan tapi ini juga sangat menggelikan. Menggelikan karena setelah perang yang sedemikian hebat, mereka bisa kembali mesra seolah tak terjadi apa-apa saat mereka keluar bersama-sama dari kamar tidur. Kamar yang terkunci rapat, namun tak cukup rapat untuk menyembunyikan suara-suara desahan dan cekakak-cekikik mesum dari dalamnya.

Bosan. Tidak ada makanan. Tidak ada yang menarik perhatianku. Kutarik tubuh dan lengan kebelakang. Meregangkan otot sekaligus menguap. Telingaku menangkap suara dari dalam rumah. Suara telapak tangan dan lutut kecil di lantai.

Dengan sedikit dorongan, pintu yang dengan ceroboh tidak dikunci oleh Sunar itu terbuka sehingga aku bisa keluar masuk ke dalam rumah. Maya sudah berada di depan kamar Sinta yang menghadap langsung ke ruang TV. Matanya yang cekung namun bening menatapku, satu-satunya makhluk hidup yang terjaga disitu.

Makhluk yang selalu menemaninya bermain, saat orang–orang yang katanya menyayanginya lebih sering memilih tidur atau menonton TV atau bermain Nitendo. Makhluk yang tidak akan menjewernya, jika Ia enggan makan karena ada sariawan di lidahnya. Tidak seperti orang- orang yang mengaku menyayanginya, yang membentak lalu mencubitnya jika Ia rewel karena tak bisa menggaruk gatal di punggung dengan lengan kecil yang tak dapat menggapai pusat gatal.

Makhluk yang tidak akan memukul atau menendangnya hingga meninggalkan lebam-lebam di tubuhnya saat ia merengek karena lapar atau haus. Makhluk yang tidak akan membekap mulutnya saat ia menangis karena mengantuk atau sekedar meminta perhatian.

Tidak sampai berdarah-darah memang. Tidak sampai meninggalkan bekas yang kentara di bagian tubuh yang dengan mudah terlihat oleh orang lain. Mereka terlalu pintar untuk melakukan tindakan ceroboh yang nantinya akan menimbulkan citra negatif pada keluarga mereka. Makhluk yang tidak akan menjadikan Maya sebagai karung pasir hidup untuk melampiaskan emosi.

Makhluk yang mau mendengarkan dan mengerti setiap ucapannya. Makhluk yang menyayanginya dengan tulus.

Aku makhluk yang tidak akan mengata-ngatai “Dasar anak’e Siti!!”, ketika Ia mengompol di kasur atau sofa. Siti, ibu kandung Maya yang namanya disebut dengan nada jijik, seperti jijik pada sampah atau kotoran. Siti yang dihamili oleh lelaki yang disebuh Ayah dalam rumah ini. Siti yang menolak menggugurkan kandungannya, seperti yang diminta oleh lelaki itu. Bukan karena Siti menginginkan anak ini. Bukan pula karena Siti mencintainya, tapi karena Siti ingin menjadikannya alat untuk balas dendam. Siti bertahan hingga Maya lahir, lalu menjadikannya bom atom yang dengan penuh sukacita ia jatuhkan tepat di tengah keluarga si lelaki yang tak mau menikahinya.

Dan disinilah kini Maya berada, sejak sembilan bulan yang lalu. Beberapa saat ditegakkannya tubuhnya. Sepasang telapak mungilnya menjauhi lantai. Ekspresi wajahnya seperti orang dewasa yang sedang memeriksa keadaan sekeliling. Beberapa waktu kemudian telapak tangannya kembali menyentuh lantai dan menjadi teman lutut untuk menyangga tubuhnya yang kecil.
Maya merangkak mendekatiku. Ku rendahkan tubuhku agar sejajar dengan pandangannya. Ia duduk lalu mengelus rambut dibelakang telingaku.

“Bobi, aku pergi dulu ya”

“Kemana?” tanyaku

“Ke tempat Tuhan”

“Mengapa?”

“Bukan disini tempatku”

“Bukankah mereka menyayangimu?” Ya, menyayangi dengan cara mereka sendiri, batinku muram.

“Iya. Makanya aku harus pergi.“

Senyuman membentuk lesung pipit di pipi Maya. Ia terus merangkak melalui pintu yang baru saja terbuka olehku. Kucoba menahan Maya dengan menarik kaos dalamnya. Satu-satunya lembar pakaian yang ia kenakan bersama celana pendek kecil berwarna pink. Maya lalu berhenti merangkak.

“Jangan pergi” aku memohon dengan suara tertahan, hingga yang keluar seperti lengkingan kecil.

“Aku sudah dijemput, Bobi”

“Kau mau kemana, Maya?”

“Rumah Tuhan.” Maya mengulang jawaban yang tadi sudah Ia ucapkan.

“Dimana itu?”

“Di depan rumah”

“Aaauuuu…” Aku melenguh sedih.

“Kata malaikat, aku akan bahagia disana. Bukan disini” Lalu aku lepaskan tarikan pada kaos dalamnya.

Maya merangkak terus menuju pintu keluar. Sampai di depan pintu, Maya berbelok ke kiri, ke arah kolam ikan. Aku berteriak melengking dan keras berharap Sunar atau Sinta terbangun. Namun Sunar bergeming pada nyenyak tidurnya. Dan Sinta juga tak keluar dari kamarnya. Entah yang mana sebabnya, karena suara TV yang terlalu keras, atau dengkuran Sunar yang tak dapat kukalahkan suaranya, atau teriakanku yang terlalu lirih.

Percuma, mereka tidak akan bangun. Lebih baik aku keluar, jangan sampai Maya masuk ke dalam kolam ikan itu.

Maya sudah berada di dekat kolam. Tangannya menggapai bibir kolam setinggi 40 sentimeter. Ia berhasil dan Ia berdiri dengan berpegangan pada bibir kolam yang baru disemen seminggu yang lalu.
Kaki kanannya tetap bertumpu di tanah dan kaki kirinya diangkat untuk menaiki bibir kolam. Dengan usaha keras, kaki kirinya berhasil menaiki bibir kolam dan otomatis menarik kaki kanannya keatas. Dengan posisi seperti menaiki kuda, kembali Maya melihatku lalu tersenyum.

“Auuuu….” keluhku pedih.

“Byuurr!” Tubuh montok Maya masuk ke dalam kolam ikan yang keruh itu. Pertama kakinya, lalu tubuh dan kepala mungilnya. Terakhir rambut ikalnya masih terlihat mengambang.

“Pyaaak!” salah satu tangan Maya menggapai ke udara, lalu hening. Tubuh Maya perlahan menghilang, tenggelam pada kolam sedalam satu meter.

“Auuuuuwww…. Aaauuuuuuuuuuuwwww….” Maya akan kehilangan nafas. Air akan masuk melalu mulut dan hidungnya. Air akan memenuhi paru-parunya. Maya akan kehilangan nafas.

“Auuuuuwww…. Aaauuuuuuuuuuuwwww….” Tiba–tiba permukaan kolam terang benderang oleh sinar yang terpusat pada satu titik di langit.

Sesuatu bergerak dari dalam kolam hingga permukaannya bergerak gerak membentuk riak-riak kecil. Kulihat tubuh Maya keluar dari dalam kolam. Kini Maya mengenakan rok terusan berwarna putih dengan renda-renda di bagian dada dan ujung roknya. Ia juga mengenakan bando dengan warna yang sama dengan warna roknya. Pipinya bersemu merah dan Ia tersenyum ke arahku sambil melambaikan tangan. Tubuhnya melayang semakin keatas, lalu menghilang. Bersamaan dengan itu, cahaya yang tadi bersinar juga mendadak hilang. Permukaan kolam sangat tenang.

Aku berlari mendekati bibir kolam, berharap masih ada harapan untuk menggapai Maya. Ternyata tidak. Maya sudah terlalu jauh. Hanya baunya yang tertinggal pada mainan dari plastik bulat berwarna merah hijau kuning dengan lonceng kecil didalamnya yang mengambang di atas permukaan kolam.

Maya, kau bahkan tidak ingin membuat mereka merasa bersalah atas kepergianmu. Mainan ini akan membuat mereka berfikir bahwa kau terjatuh saat akan mengambil mainan ini. Bukan karena memang kau ingin pergi. Pergi dari mereka yang palsu. Mereka yang dangkal.

Andai aku mampu, aku pasti akan menahanmu. Memberimu cinta lebih dari bagaimana manusia mencintai. Karena manusia telah kehilangan rasa kemanusiaannya. Manusia sudah tidak manusiawi.

“Pffffuiiiiittt…” Itu suara siulan Sunar.

“Bobi.. ck.. ckk… ckkk… Anjing pintar.. Sini.. sini….” Bahkan pada anjing pun Sunar memanggil dengan pujian. Kenapa tidak pada Maya?

Manusia telah kehilangan kemanusiawiannya.

Lena (9/12/09)

Posted in CINTA, cerita | Tagged: , , | 8 Comments »

Tantangan baru dalam dunia kerja

Posted by jilena on 11 Januari 2010

Sebuah tawaran untuk ‘babat alas’ kembali kuterima. Babat alas, istilah yang kurang lebih saya artikan sebuah tugas untuk mengurus dan mempersiapkan segala sesuatunya sebuah bisnis mulai dari mencari kantor dan isinya, rumah dinas dan isinya, sistem administrasi dan pelaporan rutin, mencari dan rekrutmen karyawan mulai dari tingkat Manager sampai dengan operasional dan memastikan semua siap dan kemudian dapat berjalan baik. Read the rest of this entry »

Posted in Motivasi Kerja, Sekretaris | Tagged: , , , , , | 40 Comments »

Selamat Tahun Baru 2010 (Untuk Sahabat-sahabat terkasih)

Posted by jilena on 31 Desember 2009

Time will never stop ticking
world will never stop rounding
Seasons will never stop changing

(Till God says so)

Waktu yang bergulir..
Dunia yang berputar..
Musim yang berganti..

Seperti usia yang trus bertambah..
Semoga seiring dengan kedewasaan dan ketaqwaan
semoga seiring dengan kebahagiaan dan kesehatan
semoga seiring dengan pencapaian-pencapaian dan prestasi
Semoga seiring dengan teraihnya cita dan cinta..

Sahabat-sahabatku..
Doaku untuk bahagiamu
Doaku untuk senyum indahmu
Doaku untuk kebanggaan didirimu

SELAMAT TAHUN BARU 2010

ist2_9577442-happy-new-year-2010

= Lena =

Posted in Tak Berkategori | 12 Comments »

Wanita

Posted by jilena on 10 Desember 2009

12459_1238377674623_1084690876_30757738_5435812_n
Wanita,
kau begitu bening
seperti retakan hati kala hening
begitu jelas kau terbaca

Wanita,
kau begitu transparan
dibalik tembok ketidakpastian
kau berdiri bersanggakan cinta

Wanita,
aku melihat ketegaranmu
aku merasakan getar semangat dalam dadamu
aku mendengar doa tak terputus dalam laju nadimu

Wanita,
aku melihat semburat air tergenang dimatamu
aku merasakan getaran rapuh dalam langkahmu
aku mendengar lirih suara tangis tertahan mu

Wanita,
kadang kau terlihat lelah
kadang kau terlihat sepi
meski seribu cara kau pakai untuk menutupi

Wanita,
lepaskanlah meski hanya sejenak
biar pelukku rekatkan retakan rapuhmu
biar kuatku penuhi kekosongan jiwamu

Wanita,
biarlah sejenak seperti ini
agar kau dapat tetap berdiri
bersanggakan cinta

LENA

Untuk para wanita.. diseluruh Dunia

diikutkan dalam “Parade Puisi Cinta”

Posted in Tak Berkategori | 29 Comments »

SEMANGAT….!!!!! CAYOOOO…!!!

Posted by jilena on 16 Nopember 2009

Harusnya ini tidak terjadi padaku.
Mereka tak pantas melakukan ini padaku. Tega sekali!
Apa mereka lupa dengan jasa - jasa ku selama ini?

Read the rest of this entry »

Posted in Motivasi Kerja, Ordinary life | Tagged: , , | 22 Comments »

Soal Ujian MAK EROT

Posted by jilena on 29 Oktober 2009

Baru - baru ini saya membaca berita tentang Soal Ujian siswa SD di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur yang sangat aneh dan sama sekali tidak pantas dijadikan soal ujian bagi murid / siswa / mahasiswa dari tingkatan apapun di daerah manapun.

Banyak pihak yang dibuat terkaget - kaget atau terheran - heran dengan soal yang diajukan dalam ujian tersebut. Yang pertama dibuat heran dengan “Kok bacaan vulgar seperti itu dijadikan soal untuk anak SD?” Apa tujuannya? Klo bacaan tersebut merupakan bagian dari sebuah artikel dari media cetak itu dipakai untuk referensi soal - soal dalam pelajaran terkait, APA GA ADA REFERENSI LAIN UNTUK DIPAKAI SEBAGAI CONTOH/ BACAAN SOAL????? Wong media cetak di Indonesia ini buanyak pol, artikel lain yang jauh lebih ‘pantas’ dan ‘mendidik’ juga buanyak sekali, kok yang ‘itu’ yang dipilih?? (haduh maaf jadi emosi nih) Read the rest of this entry »

Posted in Ordinary life, cerita | Tagged: , , , | 21 Comments »

Senja di peluk mu

Posted by jilena on 27 Oktober 2009

senjaidep1
Thanks to Depz.. for d beautiful picture

Surya perlahan memasuki horizon di ufuk barat. Langit bagai selembar kanvas raksasa dilatari warna jingga kemerah - merahan pada dasarnya, lalu bergradasi dengan warna abu - abu dan biru tua. Gumpalan gumpalan awan seperti kapas tersebar diseluruh permukaan langit.

Hembusan angin hanya serupa nafas senja. Begitu lembut begitu wangi merabai wajah dan menggerakkan rambut panjangku. Hembusan angin hanya serupa tiupan perlahan sang langit pada laut. Riak - riak yang muncul berkilauan tertempa sinar surya senja. Cahaya yang begitu indah terpantul di bola mata yang tak lepas mengagumi karya indah sang Maha Agung.

Senja tak pernah seindah senja ini, ketika aku telah meyakini hadirmu adalah kata cukup dalam hidup.
Senja tak pernah sehangat ini, ketika di dadamu menempel erat di punggungku, hingga detak jantungmu menyatu dengan tubuhku. Jantungku berdetak karena detak jantungmu.

Senja tak pernah memenuhi hatiku seperti senja ini, ketika tubuhku menghilang dalam pelukmu, nafasmu yang terhembus lembut di telingaku. Aku aman bersamamu.
Senja tak pernah begitu menggetarkan seperti senja ini, ketika senyumku menghilang dalam ciuman lembut bibirmu. Begitu lembut dan perlahan. Begitu indah hingga hatiku penuh membuncah. Aku bahagia bersamamu.

Senja tak pernah sehebat ini, kala kau menatap dalam mataku dan kau ucap kalimat “Aku mencintaimu, menikahlah dengan ku”

Surya menghilang, bintang benderang. Sebaris senyum terkembang, hilang musnah segala bimbang.

LENA
yg lagi lebbay.com

Posted in CINTA, puisi baru | Tagged: , , , , , , | 18 Comments »